Sabtu, 10 Maret 2012

Peneliti Siapkan Misi ke Dua Bulan Jupiter



VIVAnews - Ilmuwan asal Amerika dan Eropa sepakat bekerjasama dalam mengerjakan misi ambisius ke Jupiter. Mereka tertarik untuk mengeksplorasi samudera yang ada di dua buah bulan berlapis es milik planet raksasa tersebut.

Europa Jupiter System Mission, nama misi itu, merupakan usaha gabungan antara NASA dan European Space Agency (ESA). Misi dipersiapkan dalam rangka melakukan pencarian terhadap dunia lain yang bisa dihuni manusia.

Misi tersebut, jika disetujui, akan mengirimkan dua satelit yang akan mengorbit di dua buah bulan milik Jupiter. Satelit milik NASA akan pergi ke Europa, sementara satelit milik ESA akan mengelilingi Ganymede, bulan lain di Jupiter yang diperkirakan juga memiliki perairan yang sangat luas.

“Meski dipisahkan oleh samudera, namun kami sepakat untuk menggelar misi ke dunia air di Jupiter,” kata Bob Pappalardo, peneliti dari Jet Propulsion Laboratory NASA di California, Amerika Serikat, seperti dikutip dari Space, 9 Februari 2011.
Pappalardo sendiri merupakan ilmuwan yang bertugas untuk menangani satelit yang akan dikirimkan ke Europa.

“Europa Jupiter System Mission akan menghadirkan lompatan pengetahuan ilmiah seputar kondisi bulan-bulan milik Jupiter dan potensi yang mereka miliki terhadap kehidupan,” ucap Pappalardo.

Sebagai informasi, pada tahun 2009 lalu, proposal penggelaran misi bersama NASA dan ESA tersebut diprioritaskan untuk dipelajari lebih lanjut. Dan Peneliti dari kedua belah pihak sepakat bahwa secara teknis, misi tersebut merupakan misi luar angkasa yang paling memungkinkan. Dalam beberapa bulan ke depan, NASA juga akan menganalisa kembali strategi kerjasama sambil menunggu hasil dari Planetary Science Decadal Survey yang digelar oleh National Research Council of US National Academies. Survey itu akan menjadi basis bagi road map misi NASA ke planet-planet untuk dekade yang dimulai pada tahun 2013 mendatang.

Jika disepakati, Europa Jupiter System Mission akan diluncurkan pada tahun 2020 mendatang. Diperkirakan satelit itu akan tiba di orbit Europa dan Ganymede sekitar tahun 2026.

Sumber: Vivanews.com

Astronom Temukan Calon Planet di Balik Pluto

Tyche, nama calon planet itu berjarak 15 ribu kali lebih jauh dibanding Bumi ke Matahari.


VIVAnews - Bertahun-tahun lalu, di sekolah kita diajarkan bahwa tata surya terdiri dari Matahari dan 9 buah planet. Akan tetapi, sejak diluncurkannya berbagai teleskop, pesawat, dan satelit, ruang angkasa menjadi lebih kompleks.

Saat Pluto didegradasi statusnya dari planet menjadi planet kerdil, lima tahun lalu, kita cukup terkejut. Tata surya tinggal dihuni 8 planet. Bagan dan model tata surya yang dipasang di ruang kelas di seluruh dunia harus diubah. Buku pelajaran harus ditulis ulang.
Namun, kini ilmuwan memiliki bukti-bukti kuat bahwa ada planet ke 9 berotasi di belakang Pluto. Dan planet ini ukurannya cukup besar. Dari bukti-bukti yang ditangkap oleh teleskop ruang angkasa Wise milik NASA, planet raksasa ini tersembunyi di balik Oort Cloud, piringan awan yang terdiri dari benda-benda angkasa yang berada di titik terjauh sistem tata surya.

Oleh Daniel Whitmire dan John Matese, astrofisikawan dari University of Louisiana at Lafayette, Amerika Serikat, benda langit yang sedang diajukan untuk mendapat status ‘planet’ tersebut diberi nama Tyche. “Data-data awal seputar Tyche akan dipublikasikan April mendatang,” kata Whitmire, seperti dikutip dari Time, 16 Februari 2011. “Setelah itu, planet tersebut kemungkinan akan mengungkapkan dirinya sendiri dalam dua tahun ke depan,” ucapnya.

Whitmire menyebutkan, setelah lokasi Tyche berhasil dipastikan,  terserah pada International Astronomical Union (IAU) untuk menentukan apakah Tyche akan mendapat status planet secara penuh. “Yang jadi masalah bagi IAU untuk meloloskan status planet adalah, kemungkinan besar Tyche terbentuk dari bintang lain,” kata Whitmire. “Ia kemudian ditarik oleh gaya gravitasi milik Matahari dan membuatnya berotasi pada sistem tata surya kita,” ucapnya.

Sebagai informasi, Tyche diperkirakan memiliki ukuran 4 kali lebih besar dibanding Jupiter dan mengorbit pada jarak 15 ribu kali lebih jauh dibanding jarak Bumi dan Matahari atau 375 kali lebih jauh dibandingkan dengan jarak Pluto dengan Matahari.

Kemungkinan, Tyche terdiri dari hidrogen dan helium dan memiliki atmosfir dan punya beberapa bulan seperti milik Jupiter. “Data dari Wise mengungkapkan bahwa Tyche empat sampai lima kali lebih panas dibanding Pluto, yakni mencapai -73 derajat Celcius”.

Panas tersebut merupakan sisa-sisa suhu dari proses pembentukannya,” kata Whitmire. “Obyek langit sebesar ini membutuhkan waktu yang panjang untuk menjadi dingin,” ucapnya.

Sumber : vivanews.com

Dua Kosmonot Berhasil Pulang ke Bumi


VIVAnews - Kosmonot Rusia baru saja menyelesaikan perjalanan ke stasiun ruang angkasa internasional (International Space Station) untuk ke-28 kalinya. Mereka adalah Dmitry Kondratyev dan Oleg Skripochka, yang kembali ke Bumi dengan pesawat Pirs. Perjalanan 4 jam 51 menit itu berakhir di Bumi pada jam 1:21 pm waktu setempat. 

Di stasiun ruang angkasa internasional, kedua kosmonot kabarnya melakukan sepasang percobaan di luar bagian Rusia. Namun, kedua percobaan tersebut lebih kepada pengamatan cuaca yang terjadi di permukaan Bumi.

Pertama, percobaan Molniya-Gamma yang akan mengamati radiasi dari badai dan petir di Bumi. Percobaan kedua yaitu Radiometria, yang akan mengumpulkan seismik untuk menyuguhkan prediksi gempa Bumi lebih akurat. Ketika itu, Kondratyev dan Skripochka menghabiskan 5,5 jam dalam perjalan ke stasiun ruang angkasa. Mereka masuk stasiun tersebut pada Jumat malam, 21 Januari 2011.

Sebelumnya, kedua kosmonot memasang alat transmisi data berkecepatan tinggi di ruang servis Rusia yang dinamakan Zvezda. Mereka juga mematikan dan melepaskan alat penyuntik plasma, serta memasang kamera televisi pada ruang penelitian kecil MIM di bagian ISS milik Rusia.

Sekadar diketahui, Kondratyev dan Skripochka mengenakan pakaian antariksa baru milik Rusia bernama Orlan-MK yang dilengkapi sebuah komputer digital selama menjalankan misi.

Sumber :  vivanews.com

Bintang Baru Lahir di Galaksi Tetangga

VIVAnews - Teleskop ruang angkasa Hubble kembali menangkap gambar fantastis. Kali ini, gambar yang ditangkap tidak berada di galaksi tata surya melainkan galaksi tetangga kita, NGC 2841. Galaksi ini merupakan salah satu galaksi terdekat yang sengaja dipilih untuk meneliti pembentukan bintang.
Foto menakjubkan yang baru dirilis oleh badan ruang angkasa NASA itu memperlihatkan sebuah galaksi besar dengan taburan bintang-bintang kecil berwarna biru layaknya batu permata. Fantastis.


Gambar ini diambil dengan instrumen baru teleskop Hubble, yakni Wide Field Camera 3 (WFC3). Dengan kemampuan yang dimilikinya, NASA berhasil menangkap gambar secara detail bahkan sampai memperoleh komposisi warna biru solid pada permukaan bintang.

Sekadar diketahui, galaksi berbentuk spiral, yang lebih dikenal dengan sebutan NGC 2841 ini terletak di konstelasi Ursa Major, sekitar 46 juta tahun cahaya dari Bumi.

Jika diamati, cahaya bintang paling terang terpusat di tengah galaksi. Sementara cahaya spiral adalah debu yang menjadi siluet limpahan bintang paruh baya.

Objek samar-samar berwarna merah jambu pada gambar merupakan emisi nebula. Hal ini menandakan bintang tersebut benar-benar baru saja lahir.

Peneliti mengatakan, foto NGC 2841 di atas adalah bagian dari studi baru bagi ilmuwan untuk memahami dan mempelajari pembentukan bintang di alam semesta. Para ilmuwan akan mengamati lingkungan yang berbeda di sekitar galaksi tersebut untuk menjawab beberapa pertanyaan kunci. "Para astronom tidak mengerti, misalnya, bagaimana sifat pembibitan bintang sehingga variatif sesuai dengan komposisi dan kepadatan gas yang ada. Mereka juga bahkan tidak tahu apa yang memicu pembentukan bintang pertama kali," kata peneliti, yang dikutip VIVAnews dari Space.com, Sabtu 18 Februari 2011.

Saat ini, WCF3 digunakan para astronom untuk mempelajari wilayah pembentukan bintang. Target observasi adalah gugusan (cluster) bintang dan galaksi serta tingkat kelahiran bintang di galaksi aktif. Misalnya, seperti Messier 82 hingga galaksi kurang aktif seperti NGC 2841. (umi)


Sumber: Vivanews.com

Bintang Tua Petunjuk Sistem Tata Surya Lain

NEW YORK-MI: Planet mirip Bumi semestinya dapat ditemukan di sistem tata surya lain di galaksi kita, menurut penelitian terbaru oleh para peneliti senior.
Lebih dari 90% bintang di Galaksi Bima Sakti, termasuk Matahari, mengakhiri keberlangsungannya dengan menyusut menjadi kecil dan membeku yang disebut white dwarf atau si kerdil putih.  Biasanya, itu bukanlah hal pertama yang diteliti para astronom untuk mengetahui planet di luar tata surya kita. Fokus penelitian malah kepada bintang yang mirip dengan Matahari kita. Namun, studi terbaru menunjukkan white dwarf sumber potensial untuk menemukan sistem planet dalam tata surya lain di galaksi kita.
Pada dasarnya, white dwarf terdiri dari hidrogen dan helium murni dalam atmosfernya. Setiap elemen lain yang massanya lebih berat daripada helium di atmosfer white dwarf menjadi polutan dari beberapa sumber eksternal.
Selama beberapa dekade, astronom mengindikasikan polutan berupa logam itu sebagai medium antarbintang, gas tipis yang menembus ruang di antara bintang-bintang. Hal itu karena white dwarf adalah bintang tua yang telah mengorbit berkeliling Bima Sakti. "Dan saat mengorbit itulah, mereka terkontaminasi beberapa gas medium antarbintang," jelas Jay Farihi dari Universitas Leicester. "Tapi, ternyata hal ini tidak sesuai dengan data yang ada kini."
Farihi meneliti white dwarf menggunakan teleskop luar angkasa Spitzer milik NASA dengan teknologi infra. Dari pengamatannya, terlihat bahwa terdapat debu di bagian atas white dwarf. "Hampir dipastikan ini akibat terjadinya hujan di atmosfernya," ujarnya. Fahiri dan beberapa rekannya mengamati posisi beberapa white dwarf tersebut di Bima Sakti dan menganalisis apakan adanya debu di atmosfer itu disebabkan sapuan medium antarbintang. "Jawabannya adalah itu tidak masuk akal," kata Farihi.
Untuk mendapatkan gambar debu yang lebih jelas di atmosfer white dwarf, Farihi dan rekannya menggunakan data dari Sloan Digital Sky Survey, yang sebelumnya telah mengambil spektrum atau tanda-tanda cahaya dari 1 juta objek kosmis. Mereka menemukan bahwa beberapa jenis logam yang terdapat di atmosfer seperti silikon, magnesium, dan besi menunjukkan adanya kandungan bebatuan.
Sumber dari bebatuan itu memang belum diketahui, tapi Farihi mengatakan, ada dua kemungkinan mengenai asal bebatuan tersebut. Mereka mungkin berasal dari kumpulan asteroid atau pecahan dari planet yang hancur.
Agenda baru penelitian ini dipresentasikan pada minggu ini dalam pertemuan Royal Astronomical Society di Glasgow, Skotlandia. Penelitian ini juga mengindikasikan setidaknya 3% bahkan mungkin 20% dari white dwarf yang ada terkontaminasi oleh bebatuan. Nantinya hal ini dapat menunjukkan bahwa beberapa bintang yang mirip dengan matahari, bahkan yang jauh lebih besar, seperti Vega, akhirnya menjadi white dwarf yang memiliki tata surya.
Ada pula indikasi bahwa materi bebatuan di white dwarf juga mengandung air. White dwarf memiliki atmosfer yang mengandung helium, tapi ternyata juga ada kandungan hidrogennya. Dua elemen itu dapat membentuk air. "Bebatuan yang mengantarkan logam mungkin juga membawa hidrogen," kata Farihi.
Hidrogen menunjukkan bahwa bebatuan itu mengandung air, sebuah elemen penting bagi kehidupan. Menemukan tanda-tanda oksigen di atmosfer white dwarf akan mendukung penelitian ini. Tapi, kata Farihi, dibutuhkan teleskop Hubble untuk menemukan tanda-tanda tersebut. (Pri/SPACE/;:OL-04)

 

Kamis, 08 Maret 2012

Kepler Bakal Temukan 10.000 Planet


Wahana ruang angkasa Kepler diperkirakan dapat menemukan minimal 10.000 planet dalam satu dekade mendatang. Demikian dikatakan Geoff Marcy, seorang astronom University of California, Berkeley yang terlibat dalam misi perburuan planet dengan wahana tersebut dalam pertemuan American Astronomical Society bulan lalu di Seattle, AS.
"Dalam beberapa tahun mendatang, Kepler akan menemukan ribuan planet. Akan ada misi pengikut Kepler dari Eropa, amerika atau keduanya. Saya bertaruh, Pada tahun 2020, astronom akan menemukan 10.000 planet. Sementara pada tahun 2030, mungkin terdapat 20.000 atau 30.000 planet lain juga akan ditemukan," ujar Marcy seperti dilansir Space.com.

Perkiraan temuan planet baru bakal begitu banyak karena Kepler dilengkapi teknologi canggih. Selain itu, ia juga menyebut bahwa peluang ditemukannya banyak planet baru juga didukung kerja keras para astronom yang sangat inovatif.

Meski demikian, Marcy menuturkan bahwa jumlha penemuan baru bukan yang terpenting. Lebih penting lagi adalah kualitas planet yang ditemukan. Yang dimaksudnya dengan kualitas planet adalah berkaitan dengan misi mencari kehidupan di luar Bumi. "Kami ingin planet seukuran Bumi, berada pada zona yang bisa ditinggali," paparnya.

Penemuan planet yang seukuran bumi dan berada pada zona yang bisa ditinggali akan menguak tabir kemungkinan adanya kehidupan lain di luar angkasa. Terlebih juga akan menggali kemungkinan manusia untuk hidup di tempat tersebut.
Kepler seperti diberitakan sebelumnya telah menemukan planet Kepler 10-b. Planet tersebut merupakan planet ekstrasurya yang seukuran Bumi dengan diameter 1,4 kali ukuran Bumi. Meski demikian, kemungkinan tidak dapat ditinggali manusia karena terlalu dekat dengan bintangnya.
Sejauh ini, selain menemukan Kepler 10-b, kabarnya Kepler juga telah menemukan planet alien lain. Hari ini pukul 13.00 EST atau Kamis (3/2/2011) besok pukul 01.00 WIB, NASA akan menggelar konferensi yang mengumumkan planet alien baru temuan Kepler. 

Sumber : Kompas.com

Ditemukan Planet Baru di Tata Surya


Sekelompok astronom yakin bahwa mereka telah menemukan planet baru dalam tata surya. Planet tersebut diduga berukuran empat kali lebih besar daripada Jupiter dan berada pada jarak yang sangat jauh dari Matahari.
Keberadaan planet tersebut masih perlu dibuktikan. Namun, beberapa kalangan percaya bahwa bukti-bukti telah terkumpul lewat hasil observasi teleskop NASA, WISE. Data terkait temuan planet tersebut akan dipublikasikan tahun ini.
Daniel Whitmire dari Universitas Lousiana Lafayette, AS, percaya bahwa data-data bisa membuktikan keberadaan planet itu dalam dua tahun. "Jika benar, saya dan rekan saya, John Matese, akan jungkir balik. Dan, itu tidak mudah pada usia kami," katanya.
Untuk sementara, planet itu dinamai Tyche. Nama itu diambil dari nama dewi Yunani yang menentukan nasib suatu kota. Tyche diduga merupakan planet gas raksasa, jenis planet yang sama seperti Jupiter.
Tyche diduga terdapat di bagian luar Awan Oort, sebuah kawasan "terpencil" di tata surya. Jarak planet ini dengan Matahari mencapai 15.000 kali dari jarak Matahari-Bumi atau 375 kali jarak Matahari-Pluto.
Whitmire percaya, penyusun utama Tyche adalah Hidrogen dan Helium. Ia juga mengungkapkan bahwa atmosfer planet ini mirip atmosfer Jupiter. "Anda juga bisa berharap planet ini memiliki beberapa satelit," katanya.
Umumnya, planet yang berada di wilayah Awan Oort memiliki suhu hampir nol mutlak (-273 derajat celsius). Namun, Tyche diperkirakan memiliki suhu -73 derajat celsius, 4-5 kali lebih hangat dari Pluto.
Jika terbukti kebenaran keberadaannya, Tyche akan menjadi planet kesembilan sekaligus terbesar. International Astronomical Union (IAU) akan menjadi pihak yang menyetujui atau menolak keberadaan planet ini.
Whitmire dan Matese menduga keberadaan planet berdasarkan adanya kejanggalan pada sudut kedatangan komet yang banyak terdapat di Awan Oort. Sebesar 20 persen jumlah tertentu yang muncul sejak tahun 1898 memiliki sudut datang yang lebih besar dari seharusnya.
Kemungkinan keberadaan Tyche diungkapkan Whitmire dalam wawancaranya dengan The Independent, Minggu (13/2/2011). Hasil penelitian Whitmire itu didasarkan pada adanya kejanggalan sudut datang komet yang dipublikasikan di jurnal Icarus bulan ini.

Sumber : Kompas.com